Jumat, 10 Januari 2014

HHBK Gaharu



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Asal usul pohon agar-agar atau gaharu (Aquilaria malaccensis) banyak ditemukan di hutan cemara Asia Tenggara. Selain negara-negara utara-timur India, tanaman gaharu  ditemukan di negara-negara seperti Myanmar, Kamboja, Malaysia, Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Filipina, Laos, Jepang, dan sebagainya. Gaharu mulai dikenal masyarakat Indonesia pada sekitar tahun 1200 melalui sejarah perdagangan dalam bentuk tukar menukar (barter) antara masyarakat Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat dengan para pedagang dari daratan China. Indonesia  dikenal sebagai salah satu negara penghasil gaharu di dunia, karena mempunyai lebih dari 25 jenis pohon penghasil gaharu yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.
Gaharu merupakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bernilai ekonomi tinggi, berwarna khas, mengandung aroma resin wangi jika dibakar dan dapat digunakan untuk bahan parfum, dupa, obat-obatan, sabun mandi, kosmetik, dan pengharum ruangan. Tanaman ini dapat memproduksi gubal gaharu yang aromanya harum yang mengandung damar wangi (aromatic resin) sebagai akibat adanya serangan jamur akibat perlukaan yang disertai infeksi patogen melalui inokulasi atau proses lainya yang selanjutnya membuat jaringan kayu itu berwarna cokelat kehitaman. Semakin luas bidang infeksi pada jaringan kayu, semakin banyak rendemen gaharu yang dihasilkan dan kayunya akan semakin harum.
Meningkatnya nilai guna gaharu, mendorong minat negara-negara industri untuk memperoleh gaharu dengan harga jual yang semakin meningkat. Tingginya harga jual mendorong upaya masyarakat merubah pola produksi, semula hanya memanfaatkan  atau memungut dari pohon produksi yang telah mati alami, kini dilakukan dengan cara menebang pohon hidup dan mencacah bagian batang untuk memperoleh bagian kayu yang telah bergaharu. Hal ini dapat mengancam kelestarian sumber daya pohon, maka dari itu perlu adanya kelestarian sumberdaya dan produksi gaharu, dengan  upaya pembudidayaan.
Pembudidayaan tanaman gaharu dapat didukung dengan penggunaan cendawan mikoriza arbuskula (CMA) guna pertumbuhan bibit  dalam membantu pertumbuhan tanaman, meningkatkan resistensi tanaman terhadap kekeringan serta  memperbaiki nutrisi tanaman. Selain ideal dikembangkan di berbagai wilayah endemik sesuai daerah sebaran tumbuh jenis, juga dimungkinkan dapat dibudidayakan pada lahan-lahan atau kawasan yang memiliki kesesuaian tumbuh. Hal ini diharapkan selain dapat  melestarikan plasma nutfah sumberdaya pohon penghasil, juga sekaligus dapat membina perolehan pendapatan masyarakat serta devisa negara dan membina kelestarian produksi gaharu yang konstruktif dalam revitalisasi di sektor kehutanan.
B.  Rumusan Masalah
     Adapun rumusan masalah mengenai gaharu adalah sebagai berikut :
1.      Apakah pengertian gaharu ?
2.      Bagaimana ciri-ciri tanaman gaharu ?
3.      Bagaimana jenis dan kelas pohon penghasil gaharu ?
4.      Bagaimana Proses atau teknis pembentukan gubal gaharu serta faktor kegiatan budidaya pohon gaharu ?
5.      Apakah manfaat gaharu itu dalam kehidupan sehari-hari ?
6.       Bagaimana Nilai ekonomi pada pohon gaharu ?
C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang pengetian gaharu, ciri-ciri tanaman gaharu, jenis dan kelas gaharu, Proses atau teknis pembentukan gubal gaharu serta faktor kegiatan budidaya pohon gaharu, dan manfaat gaharu dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat mengetahui nilai ekonomi pada pohon gaharu.



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Gaharu
Suku gaharu-gaharuan atau Thymelaeaceae adalah salah satu suku anggota tumbuhan berbunga. Menurut Sistem klasifikasi APG II suku ini dimasukkan ke dalam bangsa Malvales, klad eurosids II.
Klasifikasi ilmiah :
 Kerajaan         : Plantae
 Divisi              : Magnoliophyta
Kelas              : Magnoliopsida
 Ordo               : Malvales
 Family            : Thymelaeaceae genera
Gaharu merupakan substansi aromatic berupa gumpalan yang terdapat diantara sel-sel kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon tersebut, dan pada umumnya terjadi pada pohon Aguilaria sp (Thymelaeaceae).
B.     Ciri-ciri Tanaman Gaharu
ciri-ciri gaharu asli beraroma harum, tanaman gaharu memiliki kandungan damar wangi yang kuat, dan melekat di tangan apabila di pegang, dan tanaman yang menghasilkan gaharu memiliki ciri kulit batang menjadi lunak, tajuk tanaman menguning dan rontok, terjadi pembengkakan, pelekukan atau penebalan pada batang dan cabang berupa gumpalan berbentuk padat berwarna coklat kehitaman sampai hitam, berbau harum jika dibakar.
C.    Jenis dan Kelas Pohon Penghasil Gaharu
a. Aquilaria spp.
 Pohon dengan tinggi batang yang dapat mencapai antara 35-40 m, berdiameter sekitar 60 cm, kulit batang licin berwarna putih atau keputih-putihan dan berkayu keras. Daun lonjong memanjang dengan ukuran panjang 5-8 cm dan lebar 3-4 cm, ujung daun runcing, warna daun hijau mengkilat. Bunga berada diujung ranting atau diketiak atas dan bawah daun. Buah berada dalam polongan berbentuk bulat telur aatau lonjong berukuran sekitar 5 cm panjang dan 3 cm lebar. Biji/benih berbentuk bulat atau bulat telur yang tertutup bulu-bulu halus berwarna kemerahan.
b.      A. malaccensis
A. malaccensis di wilayah potensial dapat mencapai tinggi pohon sekitar 40 m dan diameter 80 cm, beberapa nama daerah seperti: ahir, karas, gaharu, garu, halim, kereh, mengkaras dan seringak. Tumbuh pada ketinggian hingga 750 m dpl pada hutan dataran rendah dan pegunungan, pada daerah yang beriklim panas dengan suhu rata-rata 32° C dan kelembaban sekitar 70%, dengan curah hujan kurang dari 2.000 mm/tahun.
c. A. microcarpa
 Tinggi sekitar 35 m berdiameter sekitar 70 cm dengan nama daerah tengkaras, engkaras, karas, garu tulang, dan lain-lain. Sedangkan A. filaria tinggi pohon antara 15-18 m berdiameter sekitar 50 cm, di Irian Jaya memiliki nama daerah age dan di Maluku las. Tumbuh di hutan dataran rendah, rawa hingga ketinggian sekitar 150 m, pada kawasan beriklim kering bercurah hujan sekitar 1.000 mm/th. A. beccariana, memiliki nama daerah mengkaras, gaharu dan gumbil nyabak. Tumbuh hingga ketinggian 850 m.dpl pada kondisi kawasan beriklim kering dengan curah hujan sekitar 1.500 mm/th.
d. Gyrinops spp.
Tumbuhan gaharu jenis ini berbentuk sebagai pohon yang memiliki ciri dan sifat morfologis yang relatif hampir sama dengan kelompok anggota famili Thymeleacae lainnya. Daun lonjong memanjang, hijau tua, tepi daun merata, ujung meruncing, panjang sekitar 8 cm, lebar 5-6 cm. Buah berwarna kuning- kemerahan dengan bentuk lonjong. Batang abu-kecoklatan, banyak cabang, tinggi pohon dapat mencapai 30 m dan berdiameter sekitar 50 cm. Daerah sebaran tumbuh di wilayah Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan potensi terbesar berada di Irian Jaya (Papua).

e. Aetoxylon spp.
Pohon dengan rataan tinggi sekitar 15 m, berdiameter antara 25-75 cm, kulit batang ke abu-abuan atau kehitam-hitaman dan bergetah putih. Bentuk daun bulat telur, lonjong, licin dan mengkilap dan bertanggkai daun sekitar 8 mm. Bunga dalam kelompok berjumlah antara 5-6 bunga, berbentuk seperti payung, dengan panjang tangkai bunga sekitar 9 mm, bentuk bunga membulat atau bersegi lima berdiameter sekitar 4 mm, buah membulat panjang sekitar 3 cm dan lebar 2 cm, serta tebal 1 cm. Tumbuh pada kawasan hutan dataran rendah dengan lahan kering berpasir, beriklim sedang dengan curah hujan sekitar 1.400 mm/th, bersuhu sekitar 27° C dan berkelembaban sekitar 80%. Gaharu dari jenis ini memiliki nama daerah sebagai kayu biduroh, laka, garu laka, garu buaya, dan pelabayan.
f. Gonystylus spp.
Memiliki ciri dan sifat morfologis dengan tinggi dapat mencapai 45 m dan berdiameter antara 30-120 cm, memiliki tajuk tipis, dan berakar napas (rawa), Bedaun tunggal, berbentuk bulat telur, panjang 4-15cm, lebar 2-7 cm dengan ujung runcing, bertangkai daun 8-18 mm, licin dengan warna hijau-kehitaman. Bunga berbentuk malai berlapis dua, muncul diujung ranting atau ketiak daun, berwarna kuning, tangkai bunga panjang sekitar 1,5 cm. Berbuah keras,berbentuk bulat telur dengan ujung meruncing, memiliki 3 ruang, panjang 4-5 cm, lebar 3-4 cm, benih berwarna hitam. Gaharu dari jenis ini umumnya terbentuk pada bekas taksis duduk cabang, sehingga bentuk gaharu terbentuk umumnya berbentuk bulatan-bulatan. Nama daerah gaharu dari kelompok jenis ini adalah: karas, mengkaras, garu, halim, alim, ketimunan, pinangbae, nio, garu buaya, garu pinang, bal, garu hideung, bunta, mengenrai, udi makiri, sirantih, dan lain-lain.
g. Enkleia spp.
Tumbuhan penghasil gaharu dari kelompok jenis ini berbentuk tumbuhan memanjat (liana) dengan panjang mencapai 30 m berdiameter sekitar 10 cm, batang kemerah-merahan, beranting dan memiliki alat pengait. Bunga berada diujung ranting, bertangkai bunga dengan panjang mencapai 30 cm, bunga berwarna putih atau kekuningan, Buah bulat-telur, panjang 1,25 cm dan lebar 0,5 cm. Dikenal dengan nama daerah tirap akar, akar dian dan akar hitam, garu cempaka, garu pinang, ki laba, medang karan, mengenrai, udi makiri, garu buaya, bunta, dan lain-lain.
h. Wiekstroemia spp.
Pohon berbentuk semak dengan tinggi mencapai sekitar 7 m dan diameter sekitar 7,5 cm, ranting kemerah-merahan atau kecoklatan. Daun bulat telur, atau elips/lancet, panjang 4-12 cm dan lebar 4 cm. Helai daun tipis, licin di dua permukaan, bertangkai daun panjang 3 cm. Bunga berada diujung ranting atau ketiak daun, berbentuk malai dan tiap malai menghasilkan 6 bunga dengan warna kuning, putih kehijauan atau putih, dengan tangkai bunga sekitar 1 mm, mahkota bunga lonjong atau bulat telur dengan panjang 8 mm dan lebar 5 mm berwarna merah. Kelompok gaharu dari jenis-jenis ini dikenal memiliki nama daerah, layak dan pohon pelanduk, kayu linggu, menameng atau terentak.
i. Dalbergia sp.
Sementara hanya ditemukan 1 jenis yakni D. parvifolia sebagai salah satu dari anggota famili Leguminoceae merupakan tumbuhan memanjat (liana) dan produk gaharunya kurang disukai pasar.
j. Excoccaria sp.
Genus ini hanya ditemukan 1 jenis yakni E. agaloccha yang merupakan anggota famili Euphorbiacae tergolong tumbuhan tinggi dengan tinggi pohon antara 10-20 m dan dapat mencapai kelas diameter sekitar 40 cm. Produksi gaharunya kurang disukai pasar.
Dari beberapa jenis kayu gaharu, ada 3 jenis yang paling banyak dibudidayakan saat ini yaitu :
1.      Gaharu Subintegra
2.      Gaharu Crassna
3.      Gaharu Malaccensis
Untuk membedakan ketiga jenis kayu gaharu ini ada 2 hal yang dapat kita perhatikan dengan mudah yakni penampilan bentuk daun dan bentuk buah.

1.      Gaharu Subintegra
Gambar diatas merupakan gambar bentuk fisik daun dan buah gaharu subintegra. Daun terlihat hijau muda, mengkilat, bentuk memanjang dan terkesan runcing, permukaan daun nampak lembut atau halus. Gambar disamping adalah gambar daun muda, pada daun yang sudah tua umumnya daun besar dan panjang dan berwarna hijau tua dan daun lebih tebal jika dibanding dengan jenis lain. Ukuran daun jauh diatas ukuran daun crassna dan malacensisi. Sedangkan buah berwarna kuning cerah, mengkilat, membulat.
2.      Gaharu Crassna
Bentuk daun gaharu crassna lebih membulat, warna hijau tua, tebal dan nampak keras. Bentuk buah gaharu crassna lonjong pada bagian bawah.
3. Gaharu Malaccensis

Daun berwarna hijau tua, daun terlihat agak membulat dan pada ujung daun terdapat bagian yang runcing. Daun terlihat tipis.
D. Proses Atau Teknis Pembentukan Gubal Gaharu Serta Cara Budidaya Pohon
Gaharu









Gaharu dihasilkan dari tanaman sebagai respon dari mikroba yang masuk ke dalam jaringan yang terluka. Luka pada tanaman berkayu dapat disebabkan secara alami karena adanya cabang dahan yang patah atau kulit terkelupas, maupun secara sengaja dengan pengeboran dan penggergajian. Masuknya mikroba ke dalam jaringan tanaman dianggap sebagai benda asing sehingga sel tanaman akan menghasilkan suatu senyawa fitoaleksin yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap penyakit atau patogen. Senyawa fitoaleksin tersebut dapat berupa resin berwarna coklat dan beraroma harum, serta menumpuk pada pembuluh xilem dan floem untuk mencegah meluasnya luka ke jaringan lain. Namun, apabila mikroba yang menginfeksi tanaman dapat mengalahkan sistem pertahanan tanaman maka gaharu tidak terbentuk dan bagian tanaman yang luka dapat membusuk.
 Untuk kepentingan komersil, masyarakat mengebor batang tanaman penghasil gaharu dan memasukkan inokulum cendawan ke dalamnya. Setiap spesies pohon penghasil gaharu memiliki mikroba spesifik untuk menginduksi penghasilan gaharu dalam jumlah yang besar. Beberapa contoh cendawan yang dapat digunakan sebagai inokulum adalah Acremonium sp., Cylindrocarpon sp., Fusarium nivale, Fusarium solani, Fusarium fusariodes, Fusarium roseum, Fusarium lateritium dan Chepalosporium sp.
Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam kegiatan budidaya pohon penghasil gaharu yaitu persyaratan tumbuh. Tempat tumbuh yang cocok untuk tanaman penghasil gaharu adalah dataran rendah, lereng-lereng bukit, sampai ketinggian 750 meter diatas permukaan laut. Jenis Aquilaria tumbuh sangat baik pada tanah-tanah liat (misalnya podsolik merah kuning), tanah lempung berpasir dengan drainase sedang sampai baik. Tipe iklim A-B dengan kelembaban sekitar 80%. Suhu berkisar antara 22-28 drajat celcius dengan curah hujan berkisar antara 2000 s/d 4000 mm/tahun. Lahan tempat tumbuh yang perlu dihindari adalah (1) lahan tergenang secara permanen, (2) tanah rawa, (3) lahan dangkal (kedalaman kura dari 50 cm), (4) pasir kuarsa, dan (5) lahan yang ber-pH kurang dari 4,0.
a.      Penanganan Benih Dan Persemaian
Pengadaan bibit gaharu sementara dapat memanfaatakn potensi tegakan alam gaharu yang masih tersedia sebagai pohon tegakan benih ( seed stand ). Dalam jangka panjang perlu dibina ketersediaan pohon induk ( seed orchard ) yang berperan sebagai sumber bahan tanaman dalam membina budidaya serta sekaligus upaya pelestarian sumberdaya genetik jenis gaharu. Pengadaan bibit gaharu dapat berasal dari biji, anakan cabutan alam, dan stump . Pengunduhan biji dapat dilakukan dari pohon induk. Anakan alam diperoleh dari hasil cabutan yaitu dengan cara mengambil bibit cabutan alam yang memiliki tinggi 15-20 cm, daun lebih dari 6 helai, dan di persemaian akarnya diberi perlakuan hormon tumbuh Rootone-F sebesar 200 ppm dan dipelihara di persemaian sampai umur 4 bulan. Bibit dengan stump bisa diperoleh dari anakan alam maupun lewat persemaian dengan membuat potongan stump dengan panjang batang atas 5 cm dan panjang bagian bawah (akar) 10 cm yang diikuti pemotongan akar serabut dan diberi perlakuan Rootone-F sebesar 200 ppm sebelum ditanam di lapangan. Pengadaan benih gaharu yang berasal dari biji bisa dilakukan dengan pemungutan buah yang telah masak fisiologis. Buah masak jenis Gyrinops verstegii (Gig) Domke terbanyak terjadi pada bulan Januari-Februari dan di luar bulan tersebut gaharu berbuah sangat sedikit. Buah bentuknya bulat lonjong sebesar biji kacang tanah yang telah dikupas, dengan ukuran tinggi 1 cm dan lebar 0,5 cm. Buah tua dicirikan kulit berwarna hijau kekuning-kuningan dan cangkang buah belum merekah. Pemungutan buah dilakukan dengan cara memanjat pohon dan menjatuhkan buah dengan galah berkait agar buah dapat berjatuhan dan selanjutnya biji dikeluarkan dari buah masak dan segera didederkan di bedeng tabur, karena biji gaharu tidak tahan lama dalam penyimapanan (bersifat recasiltran). Setiap buah mengandung 3-4 biji. Dalam 1 kg buah gaharu terdapat 3.000 biji dengan daya kecambah 65 %. Pemakaian Rootone-F dalam perkecambahan biji dapat meningkatkan persen kecambah sampai 85 % (Surata, 2004). Selanjutnya penyapihan dilakukan di bedeng sapih dengan menggunakan polybag 15 cm x 20 cm, media semai tanah : kompos 4 :1. Persemaian di bedeng sapih dapat menggunakan persemaian permanen ( shade house ) dan persemaian konvensional. Setelah penyapihan maka dilakukan penyiram setiap hari. Bibit gaharu memerlukan umur > 6 bulan di persemaian sebelum ditanam di lapangan. Sebelum pemindahan bibit ke lapangan maka perlu dilakukan pemotongan akar yang tembus polybag dan hardening of (aklimatisasi) yang dilakukan sebulan sebelum penanaman.
b.      Teknik Penanaman
Sesuai dengan sifat fisiologis pohon gaharu yang mempunyai sifat toleran (memerlukan naungan) pada awal pertumbuhannya ( vegetaif growth ), maka persiapan lahan tanaman perlu diiringi persiapan pohon penaung. Letak tanaman ditata dalam jalur berjarak 3 atau 6 m yang dibersihkan secara jalur sekitar 1 m dan pohon atau semak di sekitarnya dibiarkan sebagai penaung. Jarak tanam dalam jalur 3 m atau 6 m, lubang tanam 30 cm x 30 cm x 30 cm. Modifikasi jarak tanam ini dapat dilakukan sesuai dengan kondisi tapak setempat jenis pohon penaung yang sudah ada dengan pengaturan pohon penaung sebesar 50 %. Sebaiknya gaharu ditanam pada awal musim hujan, agar bibit yang ditanam mempunyai waktu yang cukup panjang untuk tumbuh dan berkembang, sehingga pada musim kemarau pertama tanaman sudah cukup kuat untuk menghadapi keadaan cuaca yang kering dan panas di lapangan.
c.       Pola Tanam
Pola tanam budidaya gaharu disesuaikan dengan sifat fisiologis tumbuhan inang gaharu yang memerlukan pohon penaung. Apabila tanaman penghasil gaharu akan ditanam pada hamparan lahan yang luas dan masih kosong (monokultur), maka jarak tanam dapat dibuat 3 X 3 m,  3 x 4 m, 3 x 5 m, 4 m x 4 m atau 5 m x 5 m.  Beberapa teknik alternatif yang dapat diterapkan antara lain dengan memanfaatkan pohon penaung yang sudah ada (sistem perkayaan jalur) dan pembutan hutan tanaman dengan menanam pohon penaung jenis cepat tumbuh (pola hutan campuran), baik pada hutan produksi maupun hutan rakyat. Pola penaung pada hutan alami (sistem perkayaan) dapat diterapkan dengan membebaskan tajuk pohon penaung yang sudah ada.
Penggunaan naungan ini menunjukkan bahwa pada musim kemarau pertumbuhan tinggi, diameter, dan persen tumbuh lebih baik serta warna daun lebih hijau, jumlah daun lebih banyak, dan kondisi vigor tajuk tanaman lebih sehat; demikian sebaliknya yang dengan tanpa penaung pertumbuhan tanaman lebih rendah. Penggunaan pohon penaung mempengaruhi iklim mikro seperti meningkatkan kelembaban udara serta menurunkan intensitas penyinaran, temperatur udara dan temperatur tanah pada musim kemarau dan hal ini sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan gaharu di daerah kering Nusa Tenggara yang mempunyai iklim kering yang agak panjang (8 bulan).
d.      Pemeliharaan
Pemeliharaan akan sangat menentukan produksi gaharu pada saat tegakan masih muda. Pemeliharaan terdiri dari pemeliharaan tanaman muda, pemeliharaan tegakan lanjutan, dan perlindungan tanaman. Pemeliharaan tanaman muda dilakukan sejak bibit ditanam di lapangan sampai terbentuknya tegakan hutan yaitu pada saat tajuk hutan mulai menutup meliputi penyulaman, penyiangan, dan pandangiran. Penyulaman dilakukan dua kali yaitu pada tahun tanam berjalan dan umur satu tahun sampai tercapainya persen tumbuh 80 %. Penyiangan dilakukan 2 kali setahun atau disesuaikan dengan keadaan pertumbuhan gulma dan pendangiran dilakukan setahun sekali. Pemeliharaan tegakan lanjutan dilakukan sejak tajuk hutan menutup dengan pohon penaung sampai tegakan mencapai umur panen gaharu dengan melakukan pemangkasan dan penjarangan pohon penaung yang ditujukan untuk memberi kesempatan tumbuh yang sebaik-baiknya pada setiap pohon inang gaharu.      Pemeliharaan tegakan juga dilakukan pada inang gaharu yang terlalu rapat, dilakukan untuk mengurangi terjadinya persaingan antar pohon dalam rangka meningkatkan kesehatan, kualitas, dan nilai tegakan. Penjarangan pohon inang gaharu bisa juga didahului dengan mempercepat mengadakan penularan secara intensif pada pohon yang akan dijarangi selagi pohon masih muda, sehingga apabila pohon tersebut dipotong hasil penjarangan bisa dimanfaatkan.
Untuk memperoleh pertumbuhan yang optimal, pohon penghasil gaharu perlu ditanam pada kondisi yang sesuai dengan tempat tumbuhnya di alam. Tempat tumbuh yang cocok untuk tanaman penghasil gaharu adalah dataran rendah, lereng-lereng bukit sampai ketinggian 750 meter di atas permukaan laut.        
e.       Pemanenan
Pemanenan gaharu dapat dilakukan minimum 1- 2 tahun setelah proses induksi jamur pembentuk gaharu Apabila ingin mendapatkan produksi gaharu yang baik dari segi kualitas maupun kuantitas, maka proses pemanenan dapat  dilakukan 2-3 tahun setelah proses induksi jamur.Teknik pemanenan dan keahlian dalam pemilahan kayu gaharu (Gubal dan kemedangan)
E.     Manfaat Gaharu Itu Dalam Kehidupan Sehari-Hari
1.      Aktivitas Kebudayaan – Islam, Budha, Hindu
2.      Perayaan Keagamaan – Kebanyakan di Negara Islam dan Arab
3.      Wangi Parfum – Wanginya Tahan Lama Banyak Diminati di Negara Eropa Seperti Daerah Yves Saint Laurent, Zeenat dan Amourage
4.      Aroma Terapi – Menyegarkan Tubuh, Perayaan dan Undangan
5.      Obat & Kesehatan – Biasa Digunakan di Pengobatan Tradisional Khususnya Dinegara China dan Jepang
6.      Koleksi Pribadi – Untuk Ruangan Besar Khusus Eksklusif
7.      Kecantikan – Sabun, Shampo Yang Harum Semerbak
8.      Untuk pengharum ruangan yang besar
9.      Bahan obat-obatan yang memiliki khasiat sebagai anti asmatik, anti mikrobia, dan stimulan kerja syaraf dan pencernaan
10.  Contoh gambar pemanfaatan produk gaharu yang lain
Daun pohon gaharu dari budidaya kayu gaharu dapat dibuat menjadi teh yg membantu kebugaran tubuh. Manfaat teh dari budidaya kayu gaharu :
·         Sebagai anti oksidant
·         Baik Tuk pengidap insomnia/sukar tidur karena teh gaharu menekan sistem syaraf pusat sehingga menimbulkan efek menenangkan
·         Sebagai obat anti mabuk
·         Membantu merendahkan tahap kolestrol
·         Membantu meredakan ketegangan/hiperten si/stress
·         Membantu mengurangkan toksik dalam badan
·         Mengurangkan kadar tekanan dalam darah dan gula yg tinggi
F.       Nilai Ekonomi Pada Pohon Gaharu
Gaharu banyak diperdagangan dengan harga jual yang sangat tinggi terutama untuk gaharu dari tanaman famili Themeleaceae dengan jenis Aquilaria spp. yang dalam dunia perdangangan disebut sebagai gaharu beringin. Untuk jenis gaharu dengan nilai jual yang relatif rendah, biasanya disebut sebagai gaharu buaya. Selain ditentukan dari jenis tanaman penghasilnya, kualitas gaharu juga ditentukan oleh banyaknya kandungan resin dalam jaringan kayunya. Semakin tinggi kandungan resin di dalamnya maka harga gaharu tersebut akan semakin mahal dan begitu pula sebaliknya.
Secara umum perdagangan gaharu digolongkan menjadi tiga kelas besar, yaitu gubal, kemedangan, dan abu. Gubal merupakan kayu berwarna hitam atau hitam kecoklatan dan diperoleh dari bagian pohon penghasil gaharu yang memiliki kandungan damar wangi beraroma kuat. Kemedangan adalah kayu gaharu dengan kandungan damar wangi dan aroma yang lemah serta memiliki penampakan fisik berwarna kecoklatan sampai abu-abu, memiliki serat kasar, dan kayu lunak. Kelas terakhir adalah abu gaharu yang merupakan serbuk kayu hasil pengerokan atau sisa penghancuran kayu gaharu.
Sebab gaharu sangat mahal harganya salah satunya merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat di negara-negara Timur Tengah yang digunakan sebagai dupa untuk ritual keagamaan. Masyarakat di Asia Timur juga menggunakannya sebagai hio. Minyak gaharu merupakan bahan baku yang sangat mahal dan terkenal untuk industri kosmetika seperti parfum, sabun, lotions, pembersih muka serta obat-obatan seperti obat hepatitis, liver, antialergi, obat batuk, penenang sakit perut, rhematik, malaria, asma, TBC, kanker, tonikum, dan aroma terapi.
Atas dasar itu, pengembangan gaharu sangat mendukung program pelestarian hutan yang digalakkan pemerintah. Investasi dibidang gaharu sendiri sebenarnya sangat menguntungkan. Gaharu bisa dipanen pada usia 5-7 tahun.
Untuk satu hektare gaharu hingga bisa dipanen, memerlukan biaya sebesar Rp 125 juta namun hasil panen yang didapat mencapai puluhan kali lipat. Budi daya gaharu sangat cocok dikembangkan dalam meningkatkan hasil hutan non kayu, sementara pasarnya sangat luas dan tidak terbatas.




BAB III
                                                           PENUTUP
A.    Kesimpulan
·         Gaharu merupakan substansi aromatic berupa gumpalan yang terdapat diantara sel-sel kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi.
·          Jenis gaharu yang paling banyak dibudidayakan saat ini yaitu Gaharu Subintegra Gaharu Crassna, Gaharu Malaccensis
·         Proses pembentukan gubal gaharu dihasilkan dari masuknya mikroba ke dalam jaringan yang terluka dan akhirnya menghasilkan aroma yang harum.
·         Manfaat gaharu bermacam-macam yaitu dapat dibuat obat, dijadikan bahan kosmetik atau kecantikan, dan juga parfum dan untuk perayaan keagamaan.
·         Gaharu banyak diperdagangan dengan harga jual yang sangat tinggi terutama untuk gaharu dari tanaman famili Themeleaceae dengan jenis Aquilaria spp.
B.  Saran
Tanaman gaharu banyak memberikan manfaat serta meningkatkan pendapatan masyarakt juga meningkatkan devisa negara oleh karena itu diharapkan dapat melestarikan plasma nutfah sumberdaya pohon penghasil gaharu agar keberadanya tetap terjaga.











DAFTAR PUSTAKA
Agusramadhani, 2012. Jual Bibit Gaharu. http://jual-bibit-gaharu-subintegra.blogspot
           Com/is proudly powered. Diakses pada 6 september 2013 pukul 10.12 Wita.
Anonim, 2012. Budidaya Gaharu. http://www.budidayagaharu.com/kemitraan/     
            artikel/72-pengertian-gaharu.html. Diakses pada 6 september 2013 pukul 10.25 Wita.
Jahiruddin, 2009. Gaharu. http;//htysite.com/gaharu.htm. Diakses pada tanggal 6 sepetember 2013 pukul 11.12 Wita.
Kurniawan, Soraya.2008. Jenis-jenis Gaharu. http://files. Word press.com/pdf.   Diakses pada tanggal 6 September 2013 pukul 12.30 Wita.
Suryatmojo. 2004.Pohon Penghasil Gaharu. Hasil Penelitian :Yogyakarta. Diakses pada tanggal 6 September 2013 pukul 09.10 Wita.
Sumarna, yana. 2012. Budidaya pohon jenis gaharu.http://-7-budidaya pohon jenis gaharu.fan.pdf. Diakses pada tanggal 6 september 2013 pukul 10.10 Wita.
                                                                                             

2 komentar: